• November 29, 2022

Masjid Istiqlal Jakarta, dibangun selama 17 tahun!

Masjid Istiqlal Jakarta, dibangun selama 17 tahun!

masjid istiqlal

Masjid Istiqlal merupakan salah satu tempat ibadah di Indonesia dan menjadi objek wisata religi yang populer.

Masjid Istiklal terletak di Jakarta Pusat, di Jalan Taman Wijaya Kusuma di Pasar Baru, distrik Sawa Besar.

Masjid Istiqlal juga merupakan salah satu cagar budaya yang terdaftar di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Juga, Masjid Istiklal dikenal dengan sejarahnya yang kaya karena telah menyaksikan perkembangan ibu kota.

 

Berikut fakta Masjid Istiqlal yang dirangkum Kompas.com dari berbagai sumber.

1. Masjid terbesar di Asia Tenggara

Masjid Istiqlal merupakan masjid terbesar di Asia Tenggara.

Masjid seluas 9,5 hektar itu mampu menampung 200.000 jamaah, dikutip dari Kompas.com, Selasa (28 Juli 2020).

Masjid Istiqlal dibangun di atas tanah yang dulunya bernama Taman Wilhelmina.

Lokasinya yang berada di dekat Monumen Nasional (Monas) merupakan keinginan Presiden Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia (RI).

Nama Istiklal berasal dari bahasa Arab dan berarti “bebas”.

2. Ide Membangun Masjid Istiqlal

Menurut Masjid Istiqlal , setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, ada mimpi besar untuk membangun masjid yang akan menjadi tempat kebanggaan dan ibadah bagi warga Jakarta.

Ide pembangunan Masjid Istiqlal pertama kali dicetuskan oleh KH, menteri agama pertama di Indonesia. Wahid Hasyim dan beberapa ulama.

1953, KH. Wahid Hasyim bersama H. ‚Äč‚ÄčAgus Salim, Anwar Tjokroaminoto dan Ir. Sofwan, dan dibantu oleh sekitar 200 tokoh Islam yang dipimpin oleh KH. Taufiqorrahman, mengusulkan sebuah yayasan.

Selain itu, pada tanggal 7 Desember 1954, didirikan Yayasan Masjid Istiqlal di bawah naungan H. Tjokroaminoto, mewujudkan ide pembangunan masjid nasional.

Selanjutnya, Joe Crominotto menyampaikan rencana pembangunan masjid tersebut kepada Presiden Sukarno, yang disambut hangat.

Usai menerima restu Presiden, kompetisi model Masjid Istiklal pun dimulai.

Sukarno sendiri menjadi ketua dewan juri lomba maket Masjid Istiqlal.

3. Simbol kerukunan umat beragama

Masjid Istiqlal merupakan simbol kerukunan umat beragama karena berseberangan dengan Gereja Katedral, tempat peribadatan umat Katolik.

Penetapan lokasi ini diputuskan oleh Presiden Sukarno dalam rangka menunjukkan kerukunan dan kerukunan hidup beragama di Indonesia.

Debat antara Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Pertama Moher Republik Indonesia. Octa, yang muncul sebagai hasil dari penentuan lokasi.

Soekarno mengusulkan lokasi pembangunan di bekas benteng Belanda Frederick Hendrik dan Taman Wilhelmina, antara Jalan Perwira, Jalan Lapangan Banteng, Jalan Katedral dan Jalan Veteran.

Sementara itu, Hatta mengusulkan agar lokasi masjid dibangun di tengah, Jalan Thamrin, yang saat itu dikelilingi perkampungan. Ia juga meyakini akan menghabiskan banyak uang untuk membongkar benteng Belanda tersebut.

4. Arsitek non-Muslim

Fakta menarik lainnya, arsitek Masjid Istiqlal ternyata non-Muslim.

Kompas.com melaporkan Senin (22/02/2021) bahwa Soekarno mengadakan kompetisi untuk menemukan arsitek masjid Istiqlal pada tahun 1955.

Dari 30 peserta, 22 kandidat tereliminasi dan kemudian dipersempit menjadi 5 finalis.

Pada Juli 1955, dewan juri yang diketuai Sukarno menunjuk Friedrich Silaban sebagai arsitek Masjid Istiqlal.

Menariknya, Friedrich adalah seorang Kristen Protestan dan ayahnya adalah seorang pendeta.

Friedrich mencoba mencari inspirasi desain dengan menjelajahi Indonesia dan mengunjungi beberapa masjid di seluruh dunia.

Meski demikian, ia menegaskan desain masjid tersebut asli dan tidak meniru arsitektur apapun.

Tolok ukurnya adalah prinsip-prinsip arsitektur yang sesuai dengan iklim Indonesia dan berdasarkan persyaratan Muslim untuk masjid.

5. Makna Arsitektur Masjid Istiqlal

Berdasarkan apa yang dipelajarinya, Friedrich memasukkan banyak simbol yang berkaitan dengan Islam dan kemerdekaan Indonesia dalam desain Masjid Istiqlal.

Misalnya, kubah masjid berdiameter 45 meter yang melambangkan tahun kemerdekaan Indonesia 1945.

Selain itu, ada syair kursi yang mengelilingi kubah.

Masjid Istiqlal ditopang oleh 12 tiang, sesuai dengan tanggal lahir Nabi Muhammad SAW, yaitu tanggal 12 bulan Rabbi Ul Awar tahun 1961.

Lalu, ada empat tingkat balkon dan satu tingkat.

Sebanyak lima lantai melambangkan rukun Islam yang lima, jumlah shalat wajib dalam sehari, dan jumlah sila Pancasila.

Kemudian, terdapat menara masjid dengan tinggi 6666 cm di luar masjid.

Jumlah ini merupakan jumlah keseluruhan ayat dalam Al-Qur’an.

6. Proses pembangunan berlangsung selama 17 tahun

Menurut situs resmi Masjid Istiqlal, pembangunan Masjid Istiklal memakan waktu selama 17 tahun.

Proses pembangunan terhenti karena situasi politik di Indonesia yang kurang kondusif.

Pemasangan tiang pancang pertama dilakukan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 24 Agustus 1961 dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Ribuan umat Islam menyaksikan pawai tersebut.

Sayangnya, setelah pemasangan tiang pertama, pembangunan masjid tidak berjalan dengan baik.

Sejak direncanakan tahun 1950 hingga 1965, proses pembangunannya tidak banyak mengalami kemajuan.

Saat itu, ada demokrasi parlementer.

Partai-partai politik saling bertarung untuk kepentingan mereka sendiri.

Puncaknya ketika terjadi peristiwa G30S/PKI pada tahun 1965 dan pembangunan masjid terhenti total.

Setelah situasi politik membaik, pada tahun 1966 diangkat menjadi Menteri Agama KH. Muhammad Dahlan adalah orang pertama yang membangun kembali masjid tersebut. Kepengurusan dijabat oleh KH. Idham Chalid adalah Koordinator Komite Nasional Pembangunan Masjid Istiklal.

17 tahun kemudian, Masjid Istiklal selesai dibangun.

Pada tanggal 22 Februari 1978, Presiden kedua Republik Indonesia, Suharto, meresmikan Masjid Istiklal.