• November 29, 2022

Batik dikenalkan secara Internasional!

Batik dikenalkan secara Internasional!

batik

Banyuwangi Batik Festival (BBF) kembali digelar. Puluhan model di Gesibu Blambangan menampilkan berbagai desain busana yang menampilkan berbagai corak batik khas ujung timur Jawa.

Fashion show bertema “Semebyare Sisik Blambangan” ini menjadi panggung kreasi para perancang busana etnik yang berkolaborasi dengan perancang busana dan perajin batik lokal di Banyuwangi.

Menghasilkan karya yang berasa modern dan elegan.

“Dengan BBF ini, kami berharap industri batik di Banyuwangi berkembang pesat. Tidak hanya di akhir. Tapi dari hulu hingga hilir.

Dari produksi hingga sandang,” Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Minggu (2/2/2020). 10/2022.

Banyuwangi Batik Festival sendiri lebih dari sekedar fashion show. Namun, hal itu juga dibarengi dengan serangkaian upaya pemberdayaan perajin btik.

Mulai dari workshop membatik, meneguhkan filosofi dan sejarah Btik di Banyuwangi, hingga mengikutsertakan anak muda dalam mendesain baju berbahan batik.

Selain itu, untuk mendorong kecintaan terhadap btik dan kreativitas bakat-bakat muda Banyan Banyan dalam desain btik dan fashion show, sejumlah acara pendukung lainnya digelar.

Diawali dengan lomba desain btik, peragaan busana btik bertema pejalan kaki semakin memuncak, yaitu peragaan busana yang mempertemukan desainer nasional dengan desainer lokal.

“Tidak bisa berhenti sampai di situ. BBF harus terus berkolaborasi lintas sektor untuk memajukan industri kreatif di industri btik,” tambah Ipuk.

Karya yang dipamerkan pada KTT BBF 2022 antara lain kreasi Eko Purwanto yang didukung oleh UMKM Btik Larasati dan Srikandi yang mengusung tema Aser untuk menampilkan busana btik untuk pria.

Ada pula karya Rizkyesa Syauqi yang menggunakan btik dari UMKM Mertosari dan Kapuronto untuk menghadirkan nuansa floral casual bagi para pemuda yang selalu aktif dan energik.

Sementara itu, Anita Yuni dan Ala Kuwung memamerkan konsep desain batik ramah lingkungan yang terinspirasi dari kegigihan

petugas pemadam kebakaran Banyuwangi saat mereka berjuang mengatasi kobaran api yang melalap hutan Ijen.

Terinspirasi oleh wanita Muslim Jepang, Sanet Sastar, Pandawi, Osing Ningrat dan Sekar Bakung mengajukan konsep yang lebih global.

 

Konsep tersebut dihadirkan dengan menghadirkan desain batik dengan pewarna alami yang menenangkan.

Isyam Syamsi, Gondho Arum dan Sinta Mulia kembali menarik perhatian wisatawan terhadap kearifan lokal Blambangan.

Batik Banyuwangi memiliki keunikan dalam desain dan corak yang dihadirkannya. Konsisten dengan ini, itu juga muncul dalam desain Nirmala, Pendawa dan Salsa.

Disusul dengan kreasi Byenk Viena, Banjar Wangi dan Nesya yang menunjukkan kekuatan terdalam perempuan.

Menghadirkan kombinasi warna yang luar biasa dan desain khas para profesional. Ada pula kreasi Ocha Laros, Sigro Arum dan Karangseogo yang menghadirkan busana pria Osing warna-warni.

Demonstrasi diakhiri dengan penampilan Agus Sunandar, Gubab dan Seblang, sedangkan motif Valial didominasi oleh btik warna coklat.

Dan kreasi dari Ethnic Treasure, Godho Batik dan Sekar Kedaton untuk kombinasi btik yang kontras namun menenangkan.

Ikatan Pengusaha Muslim Indonesia (IPEMI) merayakan Hari Btik Nasional pada 2 Oktober 2022 dengan peragaan busana btik di Taman Yamashita di Yokohama.

Berbicara kepada Antara di Yokohama, Minggu (2/10/2022), Presiden IPEMI Jepang Sari Okano mengatakan acara tersebut tidak hanya

menjadi ajang pertemuan sesama warga negara Jepang dan Indonesia (WNI), tetapi juga untuk memperkenalkan batik kepada masyarakat Sakura. Bangsa.

“Tujuan kami adalah untuk mengenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat Jepang dan mengenalkan mereka tentang btik,” ujarnya.

Sari menjelaskan btik itu bermacam-macam, mulai dari btik tulis hingga btik cap, dan setiap daerah di Indonesia memiliki ciri khasnya masing-masing, baik dalam corak maupun warnanya.

“‘Ada macam-macam, ya, batik, jadi tahu btik,'” katanya.

Para kontestan yang mengenakan kostum dan aksesoris btik berbaris di Taman Yamashita, memamerkan pakaian mereka dengan penuh gaya.

Kain Indonesia rupanya berhasil mencuri perhatian pengunjung Yamashita Park, termasuk warga Jepang yang tidak hanya menyaksikan, bahkan turut serta dalam acara tersebut.

Selain peragaan busana, acara diisi dengan penampilan tari Sunda oleh Lastmi AFI, lulusan ajang pencarian bakat Indian Institute of Fantasy (AFI).

Acara juga dilanjutkan dengan menyanyi, pembagian door award dan penghargaan busana btik terbaik.

Peringatan Hari Batik Nasional merupakan kali ketiga IPEMI diselenggarakan secara online di Ginza, Tokyo akibat pandemi Covid-19.

“Alhamdulillah sekarang kami bisa melakukan kegiatan ini lagi, pertama kali di luar Tokyo, di luar Tokyo,” ujarnya.

Ia berharap dengan menggelar btik di tempat-tempat umum, semakin banyak masyarakat Jepang yang melihat dan tertarik dengan

btik sebagai warisan budaya bangsa Indonesia yang telah diakui UNESCO sejak 2009.

“Tentunya selain keinginan kita untuk mempersatukan sahabat dan mempererat persaudaraan warga Indonesia,

kita juga ingin mengenalkan budaya Indonesia di sini, khususnya masyarakat Jepang,” ujarnya.